Suara Satu Arah



Tulisan ini ditulis disela-sela kesibukan, kehirukpikukan. Tempat yang ramai tapi sendiri.
Jadi, Semesta, bolehkah kusebut begitu? Barangkali keberatan. Iya, aku paham, semesta memang besar sekali, wajar kalau keberatan. Tidak apa.
Baik, tidak jadi kusebut Semesta, hanya pada beberapa waktu saja, ya? Itupun sembunyi-sembunyi, biar aku saja yang tahu.
jadi
jadi apa? Tiba-tiba sudah menarik kesimpulan.
“AKU INGIN MEMOTONG JARAK!” teriakku pada kekosongan.
Seperti judul buku puisi milih Pak Sapardi, sekali lagi, ingin kupotong jarak itu, jarak yang panjang ini. Agar apa? Tidak lain dan tidak bukan, jelas agar kita berdekatan! Masa masih tidak paham?
“akan pakai apa kau untuk memotong jarak itu?” tanyanya.
Aku mulai bingung, apa harus pakai gunting raksasa? Pisau raksasa? Aku tidak punya semua itu. Namun kurasa, memotong jarak tidak pakai alat kan?!
“lalu bagaimana caranya?”
Pertanyaannya sungguh gila, bagaimana.. bagaimana? Akupun tidak tahu. Intinya, hanya ingin kupotong saja agar dekat. Kalian paham kan?
Sekali lagi, ini adalah sebuah suara satu arah, yang tidak akan pernah sampai sebuah jawabannya, yang tidak akan pernah sampai rasa rindunya.
Ternyata, satu arah tidak melulu tentang “kita searah, mau bareng?”

Komentar