Saya awali dulu dengan sebuah sapaan, hai apa kabar?
Tanpa mendapat jawabanpun, saya berharap semuanya baik-baik saja, dengan begitu, kita bisa melanjutkan sebuah tulisan ini (ditulis ataupun dibaca).
Jadi sekarang saya sedang mengajakmu bicara, mungkin bisa jadi pertimbangan di kemudian hari. Untuk memilih mana yang seharusnya kau pilih.
Bagaimana ya, jelas kau punya seseorang yang kau sayangi. Dengan sepenuh hati ataupun setengah hati. Dengan segenap perasaan atau ganjilnya perasaan. Kau tetap menyanginya ‘kan?
Lalu pada suatu waktu, kau bingung, bagaimana caranya bertahan hidup di atas sesuatu yang mematahkanmu, karena orang yang kau sayangi itu, bagaimana?
Mungkin tidak begitu berat bagi orang yang ‘setengah-setengah’, tapi bagaimana dengan yang sepenuhnya?—hatinya sudah seutuhnya untuk dia—sulit ya?
Dia berulang kali menyakitimu, aku tahu, pikiranmu ingin selalu pergi dari situ. Tapi sekali lagi, ia masih membuat hatimu luluh dan kau seakan-akan lupa dengan rasa sakit yang ia berikan.
Atau kau memang sadar hidup kalian terlampau berbeda, jauh berbeda. Perdebatan sering sekali muncul, tak pernah absen. Tapi kau bingung, mungkin itu cara Tuhan memberi ujian agar kalian berusaha semampu-mampunya untuk bertahan atau Tuhan sedang memberi cara untuk memisahkan kalian yang terlanjur bersatu?
Atau kau selalu berharap ia jadi seorang yang pertama dan mendukung sehebat-hebatnya dengan segala jerih karyamu, tapi nyatanya ia tidak ada di sana—di baris paling depan—dan tidak peduli. Entah terlalu sibuk, atau memang betul tidak peduli.
Atau hal-hal lainnya yang perlu kau pertimbangkan sendiri
Sejatinya, semua itu sederhana. Kau hanya perlu menyayangi dirimu sendiri, melebihi apapun. “Lalu, bagaimana bertahan hidup di atas sesuatu yang mematahkanmu?”
kau paham akan seperti apa jawabannya ‘kan?

Komentar
Posting Komentar