((digambar oleh kaki-tangan pluto))
Aku: "Semesta, lama tidak jumpa ya."
Semesta: "Hai Aku, bagaimana kabarnya?"
Aku: "Sekarang amat sangat baik, kamu bagaimana?"
Semesta: "Sama, baik juga."
Aku: "Syukurlah, tahu tidak, Semesta, hari-hariku kosong sekali tanpa kamu."
Semesta: "Kenapa begitu? hari-harimu seharusnya bahagia, sama seperti aku."
Aku: "Hm, begitu ya."
Aku: "Eh, Semesta, kamu tidak akan pergi lagi kan?"
Semesta: "Justru besok aku akan pulang."
Aku: "Pulang? Bukannya.. rumahmu di sini?"
Semesta: "Bagaimana ya, aku sudah tidak yakin lagi, Aku, Di sini sudah terasa tidak nyaman bagiku."
Aku: "Tapi, kamu bilang selalu akan jadi rumah."
Semesta: "Iya, tapikan-"
Aku: "Sejauh apapun katamu, selalu akan jadi rumah, Semesta. Ini rumahmu!"
Semesta: "Maaf Aku, sudah ku bilang, aku merasa asing disini. Aku tidak nyaman lagi. Tidak seperti dulu."
Aku: "Semuanya pasti begitu, Semesta. Semua hal di dunia ini pasti berubah, aku berubah, kamu berubah, tempat ini berubah, karena memang begitulah cara kerja di dunia ini. Mustahil jika semuanya tetap sama. Yang terpenting adalah bagaimana kita menerima perubahan itu. Kamu paham 'kan Semesta?"
Semesta: "Kamu bawel, Aku. Ini hidupku!"
Aku: "Tapi.. kamu bagian dari hidupku, Semesta.."
Semesta: "Tapi Semesta tidak hanya untuk Aku! Tidak cuma kamu, Aku. Bahkan kamu sudah asing, sudah sangat asing untuk tinggal disini.." *sambil menunjuk dadanya*
Aku: "Itu karena kamu terlalu lama pergi. Aku benci."
Aku tidak punya rumah lagi, entah harus bernaung di bawah apa.
Aku menyesap ke tepi pantai, sampai senja,
berharap ufuk barat siap memeluk tubuhnya
hingga langit begitu pekat, berharap lagi, bulan bisa menjadi atap,
setidaknya untuk malam ini saja. Lalu keesokan harinya ia menuju puncak gunung
berharap lagi, kabut bisa mendekap tubuhnya
Tapi, Aku, ia lupa, bahwa semua yang ia inginkan adalah bagian dari Semesta!
Mau pergi kemana lagi, Aku?
Bahkan ketika jasadnya harus dipendam tanah, ia juga bagian dari Semesta.
Lalu Aku marah, kenapa semuanya milik Semesta?!
Kenapa tidak ada satu saja, tempat, meskipun kecil yang bukan miliknya
Aku, ia lupa, ia mencintai begitu hebatnya, Semesta luas, maka cintanya pada Semesta pun juga.

Keren lahh :)
BalasHapuswehe, terima kasih!
Hapusbukan selalu yang memantengi dan mendalami juga mempelajari tulisan tulisan seperti ini, tapi tolong jangan berhenti ya. tulisan kamu indah, aku janji untuk kamu, aku bakal mantengi dan mendalami semua corat coretmu :)
BalasHapusselalu dan akan terus begitu, semoga. terima kasih ucapannya. indah, aku suka.
Hapus