Kabar Semesta (Short Story)





Semburat jingga terpatri pada lembayung senja yang amat syahdu. Burung-burung gereja beriringan menuju tempat bernaungnya; pulang. Awan-awan berarak-arakan, jingga mulai senyap tergantikan oleh langit yang mulai menggelap, kelabu. Kopi yang sedang kuminum pahit, amat pahit. Banyak yang bilang, kita pergi untuk pulang. Siapa bilang? Aku tidak mau pulang, tidak akan pernah. Pergi sejauh mungkin, meninggalkan apa saja yang mungkin akan terasa nyeri. Kuteguk kopi hitamku, lagi dan lagi. Memaksakan rasa pahit itu menjalar diseluruh saliva lidahku. Tidak apa, agar aku terbiasa dengan rasa sakit ini. Dengan pahitnya kehidupan.
Telepon genggamku bergetar, ‘Ibu’ nama yang tertera disana. Kuangkat panggilannya, suara lembutnya cukup membuatku sejuk. “Iya Bu, ada apa?”
“Kapan kamu pulang, Lintang?”
“Tidak tahu Bu, tunggu Lintang membaik, sudah dulu ya Bu, nanti Lintang kabarin lagi kalau mau pulang.” Kataku mengakhiri percakapan singkatku dengan Ibu, tidak tega memang, tetapi semakin lama mendengar suara Ibu hatiku malah semakin terasa nyeri.
Aku sedang berada di Nusa Tenggara Barat, rumahku di Jawa. Harus menyeberang pulau untuk lari dari kenyataan. Aku bertengkar hebat dengan Ayah, masalahnya mungkin sepele. Tapi amat sangat menguras emosi, ditambah lagi suasana hatiku sedang tidak baik kala itu. Aku kalap, sampai-sampai aku berada disini. Sudah sekitar 6 hari aku pergi dari rumah, menempati gubuk kecil yang berada di Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kenapa disana? Aku juga tidak tahu, hatiku menuntunku menuju tempat persinggahan ini, mungkin akan menjadi rumah. Syukurnya, di hari ke-2 aku sudah mendapat pekerjaan, tidak perlu repot-repot kerja serabutan untuk bertahan hidup. Aku mengajar di sebuah Sekolah Dasar yang terpencil di desa ini. Gaji tidak besar memang, tapi setidaknya penghasilanku pasti dan sudah terjamin. Cukup untuk menghidupi diri sendiri.
“Selamat malam Saiq1 Lintang!” Baiq, anak laki-laki kelas 3 SD menyapaku, sedikit mengagetkan.
“Eh, araq ape2 Baiq? Magrib – magrib bukannya pulang ke rumah.”
Tuaq3 Dende cari Saiq daritadi, dia ada di balai desa.” Katanya.
“Terima kasih Baiq. Hati – hati jalan pulang!”
Setelah mendengar kabar singkat dari Baiq, aku langsung menuju tempat yang Ia maksud tadi, Balai desa. Tidak begitu jauh dari rumahku, ditempuh dengan jalan kaki pun sangat ringan. Warga desa sini sudah terbiasa dengan jalan kaki, mana ada yang hanya ke warung pakai sepeda motor. Buang – buang bensin, kalau kata mereka.
“Araq ape Tuaq? “ Tanyaku ketika melihat Paman Dende dan beberapa bapak – bapak beserta satu dua ibu – ibu disana. “ Begini Lintang, ayo kita buat majelis dahulu.”
“Lusa, kami akan pergi ke Jawa, ada ekspedisi mengenai peningkatan pendidikan ke sekolah yang ada di Jawa” Lanjut Paman Dende.
 
“Seperti studi banding begitu?” tanyaku. “Nah, iya itu! Jadi kami lusa akan adakan studi banding. Kamu mau ikut, Lintang?” aku berfikir. Diam.
                “Sekalian kamu bisa berkunjung ke rumah keluargamu Lintang, apa kamu tidak rindu?” Celetuk salah seorang ibu.
“Bagaimana ya Pak, Bu. Maaf Lintang belum bisa ikut.” Kataku. Siapa bilang tidak rindu, masalah rindu, tidak ada yang tahu kecuali diri sendiri dan Tuhan Semesta Alam. Aku rindu. Tapi ada hal besar, hal lain yang mengesampingkan rindu ku, untuk kusimpan dulu sejenak. Meredam ego, untuk mau kembali pulang ke rumah.
“Lain kali kalau ke Jawa lagi Lintang ikut, tapi untuk sekarang Lintang belum ada persiapan. Maaf sekali lagi. Lintang pamit dulu Paman, belum beres – beres gubuk. Sudah malam juga. Selamat malam.”
Malam temaram, sekarang sedang bulan sabit. Langit hitam berhias bintang – bintang, ingin kugapai satu. Kalau dipikir – pikir, hiduplah seperti langit. Langit sangat menawan, indahnya tiada banding. Tingginya tak ada yang menandingi. Tapi satu hal, langit tidak perlu menunjukan dirinya hebat. Yang hebat akan selalu terlihat hebat, yang baik akan selalu terlihat baik. Begitu pula yang buruk, ia akan terlihat keburukannya sebaik apapun ditutup – tutupi. Maka, jadilah satu dari yang baik.
Aku menulis sebuah pesan singkat untuk Ali, isinya : “Tadi aku ditawari Paman Dende yang waktu itu aku ceritakan, lusa beliau ke Jawa, ada studi banding disana. Aku ditawari ikut, tapi kutolak, maaf.”
Tidak lama, Ali membalas pesanku, “Kenapa?” dan tiba – tiba ia meneleponku, obrolan mulai terjalin.
“Malam Lintang, apa kabar?” tanya Ali memulai percakapan.
“Baik, kamu gimana?”
“Baik juga. Tapi tidak sepenuhnya, tidak sampai kamu pulang.”
“Aku belum siap pergi ke Jawa lagi, masih meredam ego. Sabar ya.”
“Lama ga ngobrol, suaramu masih sama ya.”
“Iyalah, masa tiba – tiba suaraku jadi kaya komodo!”
“Cepat pulang Lintang, banyak yang rindu.”
Obrolan kami semakin larut, akupun lama kelamaan tertidur.

Hari ini, hari keberangkatan Paman Dende dan kawan – kawan menuju Jawa. Semoga selamat sampai tujuan. Semoga Jawa dan rumah baik – baik saja. Paman Dende menawarkan ku sekali lagi, mau ikut atau tidak. Tapi kutolak secara halus, meyakinkan beliau kalau aku benar – benar tidak akan ikut. Ini tanggal merah, tanggal merah setiap minggu. Hari yang ditunggu – tunggu banyak orang. Aku menghabiskan hari untuk memberi makan hewan ternak, bercocok tanam, dan membaca buku puisi karya Aan Mansyur. Salah satu bait kesukaanku adalah;
Dia meninggalkanmu agar bisa
selalu mengingatmu.
Dia akan pulang untuk membuktikan,
mana yang lebih kuat, langit atau matamu.
"Alik lama, Ali, suaramu masih sama ya." meredam ego. Sabar ya." beliau ke Jawa. aku iapan.  sejenak.
" hal besar
Tenang Ibu, Ayah, dan Ali. Aku akan pulang, secepatnya.

Senja, lagi – lagi hal yang paling aku suka. Kali ini minum teh hangat, bukan kopi pahit lagi. Lidahku menolak mentah – mentah kopi itu. Matahari bersembunyi di ufuk barat menjadikan pemandangan elok nan indah sembari burung-burung gereja berterbangan, beriring-iringan menuju pepohonan yang rimbun. Apalagi kalau tidak untuk pulang. Singgah untuk menyambut hari esok, dan pulang lagi. Begitulah, siklus. Tapi tidak selamanya siklus itu berjalan dengan baik, ada juga, beberapa yang pergi dan tidak kembali ke rumahnya, memilih untuk meninggalkan. Dan rumah itu menjadi sesuatu yang ditinggalkan, rapuh termakan waktu.

5 Agustus 2018
18.43 WITA

Lintang, kamu baik – baik saja? Kemarin katanya di Lombok ada gempa. Telepon aku segera.
Ada pesan dari Ali. Seperti permintaannya, langsung ku telepon, tersambung.
“Halo Ali, kabar baik. Aku tidak apa – apa, gempanya tidak sampai disini. Jangan khawatir, Jaga dirimu.” Kataku diawal pembicaraan.
“Cepat pulang, Lintang.” Suaranya bergetar.
“Pasti pulang, tunggu saja. Sebentar Ali, aku belum menutup pintu, kuakhiri dulu ya. Nanti aku telepon lagi, sebentar.”
Aku merapikan halaman depan gubuk, menutup pintu dan menguncinya, tanpa disadari, tanah yang kupijak bergetar, dinding gubuk ku ikut bergetar juga, aku segera berlari keluar. Menuju tanah lapang, disana sudah banyak warga, mulai dari yang tua hingga anak bayi yang digendong ibunya, panik.
Aku sedang mengetik pesan untuk Ayah dan Ibu, mengirim kabar bahwa aku akan baik – baik saja. Barangkali mereka mendengar berita tentang tempatku sedang terkena bencana, agar mereka tidak khawatir. Panggilan telepon tidak terangkat dari Ali, aku tidak sempat mengangkatnya karena sesuatu menghantam kepalaku dengan sangat keras, pohon sawit menjatuhi tubuhku, telepon genggam ku terpelanting. Tanah lombok semakin bergetar hebat, kencang sekali. Orang – orang berteriak minta tolong, entah kepada siapa. Gubuk – gubuk kami luluh lantah, rata dengan tanah. Langit lombok malam ini, indah, masih sama. Namun keadaan kami benar – benar tidak sedang untuk mengamati keindahan langit.
“Ayah tidak pernah mendidik anaknya seperti itu!” teriak Ayah, menggemparkan langit malam yang seharusnya indah. “Tapi Lintang sudah dewasa, Yah. Bukan anak kecilnya Ayah lagi. Lintang berhak menentukan hidup Lintang sendiri.”
“Yasudah, sana pergi dari rumah ini dan temukan hidupmu sendiri.” Lalu Ayah masuk kamarnya, meninggalkan aku dan Ibu.
“Bu, Lintang kan hanya kumpul dengan teman – teman, wajar saja. Itu juga sambil mengerjakan tugas akhir semester. Makanya pulang sampai selarut ini.” Aku membela diriku sendiri di depan Ibu, barangkali Ibu akan berada di pihakku. Tapi kebalikannya, Ibu hanya geleng – geleng kepala sambil menyeka air matanya lalu masuk ke kamar. Rasanya saat ini aku sudah tidak diharapkan hidup lagi.



Pergi untuk pulang
Pulang untuk pergi lagi.
Aku pernah bilang, kamu adalah sebuah rumah; tempatku untuk pulang.
Lalu aku juga pernah bilang, kemanapun aku pergi
Sejauh apapun aku melangkah
Selama apapun aku meninggalkan rumah,
aku tetap kembali pulang. Semoga saja begitu.

“Apa kabar, Semesta?
Lambat laun tidak akan terdengar ceritamu
Semesta hilang ditelan semesta
Tenggelam ke dasar samudera,
bersama harapan yang selalu kudamba. Tentangmu
Semoga selalu baik-baik saja ya,
Seperti aku
selalu baik-baik saja, menunggumu pulang
Terlalu lama,
peluh dan letih
Lalu, Bagaimana kabarku?
Tanyamu suatu ketika
Aku sudah bilang,
aku baik-baik saja
Baiklah,
katamu sambil tersenyum
Pada suatu ketika yang lain
Apa kabar, Semesta?
Tidak ada jawaban
Sudah pergi,
rupanya.”
Pencipta   : Ali
Judul      : Kabar Semesta
Dimuat di surat kabar Suara Merdeka edisi tanggal 7 Agustus 2018.







- gubuk epada uhi tubuhku, telepon genggam ku terpelanting.angkatnya, karenaak khawatir.
beku puisi karya Aan Mansyur. sa

Sebuah cerpen, karya Salma Zakiyyah.

Komentar