Ombak Lautan


Langit terik menerpa bumi, udara panas berkesiur menerbangkan rambut-rambut coklat kami yang kering, pasir tanah ikut beterbangan kesana-kemari. Ilalang yang menguning dan beberapa tumbuhan yang meranggas, benar-benar musim kemarau!

Hari ini aku-Rinai- dan temanku, Aksa, akan mengunjungi pantai bercadas dan bebatuan yang menjulang, tapi jangan salah, ini pantai yang sangat indah. Airnya jernih, biru sejauh mata memandang, kalian bisa saja melihat kehidupan di bawah laut. Kali ini kami akan menyelam, mengobati tubuh yang sudah peluh diterpa sinar matahari. 

"Hei, Aksa! Jangan diam saja, ayo nyebur!"
Aksa berlari mengejarku yang sudah dulu lompat dari tebing, 'byurr' begitulah suara ketika kami lompat dari atas tebing, rasa segar langsung merasuk tubuh kami.
Kami menyelam dan berenang bebas, sesekali naik ke permukaan untuk mengambil napas panjang-panjang dan menyelam lagi.

Hari kian sore, ombak pun semakin besar, aku dan Aksa naik ke permukaan, di atas tebing, sambil mengeringkan tubuh kami yang masih berbalut baju yang basah.
"Rinai," panggil Aksa.
"Iya, ada apa?"
"Aku mau bicara." Ucapnya dengan serius, aku yang tadinya sedang menatap laut langsung menoleh ke arahnya, "Ya tinggal bicara saja, biasanya juga langsung ngomong." Kataku sambil menepuk pundaknya lalu tertawa kecil.
"Ini serius, Rinai." Aksa diam sebentar, "jadi, tahun ajaran baru aku sudah tidak di sini." lanjutnya.
"Kenapa?" membayangkan hari-hariku tanpa Aksa, bagaimana ini?
"Orang tuaku pindah kerja, di Jawa. Aku harus ikut dengan mereka."
"Tapi kamu yakin?"
"Mau tidak mau, lagian nanti aku juga sekalian kuliah di sana." Jelasnya.
"Bagaimana dengan rumahmu di sini? atau bagaimana dengan sekolahmu, teman-temanmu, sanak saudaramu, bagaimana Aksa?" Tanyaku bertubi-tubi, "bagaimana dengan aku?"
Aku terdiam, Aksa juga.
"Aku tidak tahu, Rinai." Gumamnya pelan.
"Kamu bisa memilih, Aksa. Kamu punya hak untuk menolak kalau memang kamu tidak mau ikut orang tuamu ke Jawa. Kamu sudah dewasa dan pasti kamu paham betul. Kamu saja tidak yakin, jangan memaksakan kehendak, Aksa."
Aksa manggut-manggut, tanda meng-iyakan, mungkin.
"Lihat ombak itu, Rinai." ucapnya sambil menunjuk apa yang ada di depan kami, "Aku ingin seperti ombak itu."
"Kenapa?"
"Ombak itu keras tapi tenang, menjauh tapi selalu kembali memeluk pantai." Jelasnya.
"Maksudnya?"
"Hidupku di sini keras, kamu tahu. Tapi dengan semua itu aku nyaman menjalaninya. Juga, aku tidak selamanya ada di sisimu, tapi aku selalu ingin kembali untukmu, Rinai." Jelasnya lagi dan kali ini membuat pipiku merah seperti semburat jingga di ufuk barat. 
"Maka ayo menjadi ombak." Kataku dan tanpa berpikir panjang, aku langsung menarik lengan Aksa dan loncat dari tebing yang tadi kami singgahi, menceburkan diri di ombak yang sedang pasang.

Seketika bumiku gelap.

Aku melihat tubuh Aksa yang hendak menggapaiku, tapi tidak bisa. Aku melihat Aksa semakin jauh dan jauh. Sampai akhirnya aku hanya melihat kegelapan.

Aksa, aku ombak, tolong jadi pantaiku.








Komentar